Rabu, 12 November 2014

Waspadai... jebakan: "Hedonic Treadmill "

Pertanyaannya : kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan?

Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yang kemudian dikenal dengan nama "hedonic treadmill".

Gampangnya hedonic treadmill ini adalah seperti ini : saat gajimu 5 juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta per bulan, eh semua habis juga.

Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilanmu.

Dengan kata lain, nafsumu untuk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan income. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill : seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju. Sebab nafsu-mu akan materi tidak akan pernah terpuaskan.

Saat income 10 juta/bulan, naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan naik Alphard. Ini mungkin salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill.

Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan, meski income makin tinggi. Sebab harapanmu akan penguasaan materi juga terus meningkat sejalan kenaikan income-mu.

Ada eksperimen menarik : seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp 5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah.

Apa yang terjadi ? Enam bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level kebahagaiaan orang itu SAMA dengan sebelum ia menang undian berhadiah.

Itulah efek hedonic treadmill : karena nafsumu terus meningkat, kebahagiaanmu seolah berjalan di tempat, meski income melompat 10 kali lipat. Atau bahkan dapat hadiah 5 milyar.

Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill? Lolos dari jebakan nafsu materi yang tidak pernah berhenti?

Disinilah relevan untuk terus mempraktekan gaya hidup yang minimalis yang bersahaja ( qona'ah ) : sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.

Prinsip hedonic treadmill adalah : more is better. Makin banyak materi yan g kamu miliki makin bagus. Jebakan nafsu yang terus membuai. Makin banyak mobil yang kamu miliki, makin bagus. Makin banyak properti yang kamu beli makin tajir. Godaan nafsu kemewahan yang terus berkibar-kibar.

Gaya hidup minimalis punya prinsip yang berkebalikan : less is more. Makin sedikit kemewahan materi yang kamu miliki, makin indah dunia ini. Gaya hidup minimalis yang bersahaja punya prinsip : hidup akan lebih bermakna jika kita hidup secukupnya. When enough is enough.

Prinsip hidup bersahaja, yang tidak silau dengan kemewahan materi, mungkin justru akan membawa kita pada kebahagiaan hakiki.

Dalam istilah islam kita kenal dengan " zuhud " letakan materi duniawi pada tempatnya, sedikit atau banyaknya materi yg dimiliki tidak mengganggu ketaatan kepada Allah dan tidak merubah sikap sederhana dlm prinsip hidup bersahaja (harusnya boleh saja income dan materi terus bertambah, tp sikap dan gaya hidup tdk berubah)

Sebab pada akhirnya, bahagia itu sederhana : misal masih bisa menikmati secangkir Kopi atau teh di pagi hari dgn goreng pisang atau nasi uduk... setelah sebelumnya menyelesaikan sholat subuh berjamaah, tilawah dan sedekah... adalah kebahagiaan yg memuaskan dahaga jiwa.

Selamat menemukan kebahagiaan yang bersahaja.

Jumat, 07 November 2014

Ketika

Ketika aku ingin KAYA.
Aku lupa bahwa hidup adalah KEKAYAAN.

Ketika aku takut MEMBERI.
Aku lupa bahwa semua apa yang aku miliki adalah
PEMBERIAN.

Ketika aku ingin jadi yang TERKUAT.
Aku lupa bahwa dalam KELEMAHAN
Tuhan memberi aku KEKUATAN.

Ketika aku takut RUGI.
Aku lupa bahwa hidupku sebuah
KEBERUNTUNGAN.

Hidup ini indah kawan jika kita MENSYUKURI apa yang sudah ada.
Adakala ya yang TERINDAH bukanlah yang TERBAIK.

Yang SEMPURNA tak menjanjikan KEBAHAGIAAN.
Tetapi ketika kita mampu dan mau menerima
semua kekurangan dan kelebihan itulah KEBAHAGIAAN. #jumatmubarok

Kamis, 06 November 2014

kalau tdk sekarang kapan lagi?

Ketika aku membuka lembaran-lembaran file pegawai yang telah pensiun, kutemukan catatan berikut ini:

Dahulu aku berangan-angan….
Andai aku menjadi seorang pegawai kantoran…
Dan benar saja, akhirnya akupun bekerja sebagai pegawai
Sehingga akupun terobsesi untuk segera menikah.

Dahulu aku berangan-angan …
Kiranya aku dapat menikah..
Dan benar saja, akupun menikah.
akan tetapi hidup ini demikian sepi tanpa kehadiran anak.

Akupun berangan-angan…
kiranya aku dikaruniakan anak
dan benar saja, akupun diberikan karunia anak -anak.
Akan tetapi ,tidak berselang beberapa lama akhirnya aku jenuh dengan dinding2 apartemenku sendiri.

Akupun kembali berangan-angan.
Andai aku memiliki rumah pribadi
Terdapat halaman dan tamannya…
Dan benar saja, setelah berusaha keras akupun memiliki rumah itu, akan tetapi… anak anak ku sudah pada dewasa..

Akupun kembali berangan-angan
Duhai kiranya aku dapat menikahkan mereka…
Dan benar saja, akhirnya merekapun telah menikah.
Tapi aku jenuh dengan pekerjaanku dengan segala kesulitannya, semuanya terasa sangat melelahkanku.
Akupun kembali berangan-angan
Andai aku segera pensiun agar aku dapat beristirahat.
Benar saja, akupun akhirnya pensiun
Akan tetapi akupun tinggal seorang diri persis seperti kala aku baru lulus kuliah dahulu.

Akan tetapi ketika baru lulus kuliah dahulu
Saat itu aku tengah menyongsong kehidupan
sementara saat ini aku sedang menyongsong akhir kehidupan
Namun meskipun demikian, aku masih saja memiliki setumpuk angan -angan…

Kini aku berangan-angan
Untuk menghafalkan Al Qur'an
Tapi… ingatanku telah mengkhinatiku (cepat lupa)

Aku juga berangan-angan
Untuk berpuasa mendekatkan diri kepada Allah
Tapi kesehatanku tidak lagi mendukungku.

Aku juga berangan-angan
Untuk bangun shalat malam
Tapi kakiku tak mampu lagi menahan beban tubuhku

Sunggu benarlah Sabda Rasulullah al-Musthafa,
"Pergunakanlah sebaik-baiknya 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara:
1. Masa mudamu sebelum datang masa tuamu
2. Masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu
3. Masa kayamu sebelum datang masa miskinmu
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu
5. Masa hidupmu sebelum datang kematianmu

Ya Allah! Bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu dan melakukan ibadah sebaik-baiknya kepada-Mu.

Saudaraku…
Jika dalam aktivitas harianmu tidak terdapat
Dua rakaat Shalat Duha,

Atau 1 hizb bacaan Qur'an

Atau shalat Witir di malam hari,

Atau ungkapan kalimat baik yang kau ucapkan,

Atau sedekah yang dapat memadamkan kemurkaan Allah,

Atau amalan rahasia yang tak diketahui melainkan Allah.

Maka masih adakah nikmat hidup tersisa untukmu?

4 tipe Manusia

Apabila kita perhatikan manusia, kita akan menemukan 4 model ini:

1. Orang yang taat dan hidupnya bahagia.
2. Orang yang taat tapi hidupnya susah.
3. Orang yang ahli maksiat tapi hidupnya bahagia.
4. Orang yang ahli maksiat dan hidupnya sengsara.

Bila anda berada pada nomor satu, itu hal biasa, karena Allah berfirman:

«مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ»

"Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, kmaka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan". (An Nahl: 97)

Bila anda berada pada nomor 4, ini juga hal biasa. Karena Allah mengatakan:

«وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى»

"Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Thaha: 124)

Adapun bila anda berada pada nomor 2, ini barangkali ada dua kemungkinan:

- Boleh jadi Allah mencintaimu dan Dia ingin menguji kesabaranmu, kemudian mengangkat derajatmu. Seperti firman Allah:

«وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَ بَشِّرِ الصَّابِرِينَ »

"Dan sunnguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar". (Al Baqarah: 155)

- Boleh jadi juga di dalam ketaatan anda ada celah dan dosa yang tidak anda sadari hingga anda terus menunda-nunda untuk bertaubat. Untuk itu Allah menguji anda supaya anda kembali kepada-Nya. Allah berfirman:

«وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ»

"Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)". (As Sajdah: 21)

Namun bila anda berada pada posisi ke tiga, berhati-hatilah! Karena barangkali itu adalah istidraj.

Ini adalah posisi terjelek yang dihadapi oleh seorang manusia dan akibatnya sangat mengerikan. Azab dari Allah pasti datang jika anda tidak mengambil pelajaran dan taubat sebelum nasi berubah menjadi kerak.

Allah berfirman:

«فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ»

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa". (Al An'am: 44)

Allah berfirman:

(وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين)

"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman". (Adz Dzariyat: 55)

Waspadai Bencana Facebook dan WhatsApp (Hamba Allah)

Seorang Hamba Allah menulis :

من منّا لم يلاحظ التغيّر في حياته بعد دخول الواتس آب والتويتر عليها ..؟
إنه الغزو الفكري للعقول، وللأسف انقدنا إليه، وبعدنا عن ديننا الإسلامي القويم، وعن ذكر الله..
اصبحنا عُبّاداً للواتس آب والتويتر والفيس

Adakah dari kita yang tidak melihat perubahan dalam kehidupannya setelah masuknya Whatsapp, Facebook, dan twitter dalam kehidupannya ...?
Hal Ini merupakan Ghazwul fikri yang menyerang akal, namun sangat disayangkan, kita telah tunduk padanya dan kita telah jauh dari agama Islam yang lurus dan jauh dari dzikir kepada Allah....
Kita telah menjadi penyembah-penyembah Whatsapp, Twitter, Facebook...
 
لماذا تحجرت قلوبنا؟
لكثرة ما نشاهد من مشاهد مخيفة وحوادث مما ينشر في الواتس آب، فأصبح لقلوبنا عادة، فما باتت تخشى من شيء، لذلك تحجرت.

Kenapa hati kita mengeras membatu !?

Karena seringnya kita melihat cuplikan video yang menakutkan dan juga peristiwa-peristiwa yang di share di facebook atau Whatshapp, maka jadilah hal itu terbiasa di hati kita .....jadilah hati kita tidak lagi takut karena apapun, berubahlah hati mengeras bagai batu.

لماذا تفرقنا وقطعنا الأرحام؟
لان تواصلنا أصبح بالواتس آب، فيوهمنا وكأن الشخص كل يوم نراه، ولكن للاسف ليس بهذه الطريقة تكون صلة الرحم كما في ديننا الإسلامي.

Kenapa kita terpecah belah dan kita putus tali kekerabatan !?

Karena kini silaturrahmi kita hanya via Whatsapp saja, menjadikan kita terbayang seakan kita bertemu mereka setiap hari...

Namun yang disayangkan bukanlah begini tata cara bersilaturrahim dalam agama Islam kita

لماذا أصبحنا نغتاب الناس بكثرة ونحن لا نجالس أحدا؟
لاننا كلما وصلتنا رسالة تعيب شخصا أو جماعة سارعنا في إرسالها للمجموعة، فبتنا نغتاب وبسرعة كبيرة ونحن غير مدركين لما كسبنا من آثام..

Kenapa kita sangat sering mengghibah manusia, padahal kita tidak sedang duduk dengan seorangpun!?

Itu karena saat kita mendapatkan satu message yang berisi pencelaan terhadap seseorang atau suatu kelompok, dengan cepat kita sebar ke grup-grup yang kita punya, dengan begitu sangat cepatnya kita berghibah ria, sedang kita tidak sadar berapa banyak dosa yang kita dapatkan dari hal itu...

لماذا ضيعنا صلاة الصبح في جماعة؟!
لاننا مشغولون طوال الليل فما بتنا نقوى على النهوض لصلاة الصبح في جماعة فمنا من يصليها متأخرا ومنا من يصليها بعد الشروق ويكاد منا لا يصليها.
حتى احب الأوقات لله تعالى مثل القيام وقبل الشروق نحن مشغولون بالواتس اب والتويتر بالرسائل الصباحيه وغيرها!!

Mengapa kita tidak sholat subuh berjama'ah??

Karena kita sibuk begadang sepanjang malam.... kita tidak istirahat tidur agar bisa sholat subuh berjama'ah...

Diantara kita ada yang sholat subuhnya terlambat, ada yang sholatnya setelah terbit matahari, dan ada yang hampir-hampir tidak sholat...

Bahkan sampai-sampai waktu-waktu yang paling dicintai oleh Allah -seperti waktu sholat malam dan sebelum terbit matahari- kita sibuk ber WhatssApp dan twitter  untuk mengshare forward-an atau broadcasting-an  pagi dan yang lainnya..?! 

لماذا لم يكن التوفيق في حياتنا؟!
لأننا هجرنا القرآن فنحن مشغولون اربعة وعشرون ساعه بهذه التقنيه وغيرها من امور الدنيا فلم نوفق لاعراضنا عن الذكر فلنا معيشة ضنكا.

Kenapa kita tidak dimudahkan (kepada kebaikan) dalam kehidupan kita..?!

Karena kita telah meninggalkan al-Qur'an, sementara kita sibuk dua puluh empat jam dengan tekhnologi ini dan perkara dunia lainnya, maka kitapun tidak diberi taufik karena kita berpaling meninggalkan dzikir, jadilah bagi kita kehidupan yang sempit...

للأسف أصبحنا كالمدمنين..!
(نأكل والهاتف باليد اليسرى.. نجلس مع الأصحاب والهاتف بيدنا.. نتحدث مع الأم والأب، والواجب احترامهما، ولكن الهاتف باليد، نقود والهاتف باليد، حتى أطفالنا فقدوا الحنان لأننا أعرضنا عنهم لأجل الهاتف).
كل هذا وأكثر

Sangat disayangkan, kita telah menjadi para pecandu...

Kita sedang makan sementara handpone ada ditangan kiri kita...

Kita duduk-duduk bersama teman-teman, sementara handphone ada di genggaman...

Kita berbicara dengan ayah dan ibu yang wajib kita hormati, akan tetapi handphone masih terus di tangan...

Kita sedang menyetir, HP tetap juga ada di tangan...

Sampai anak-anak kita pun telah kehilangan kasih sayang dari kita, karena kita telah berpaling dari mereka dan lebih mementingkan handphone...

Dan masih banyak lagi ....

لا أرغب بسماع من يدافع عنه، فقبل دخول تلك التقنية لم يكن يحظى الهاتف باهتمامنا، أما الآن فإذا غفلنا عنه لساعة فترانا بلهفة له، وياليتها كانت للصلاة والقرآن.
فمن منا ينكر ذلك؟ ومن منا لم يلاحظ الانقلاب في حياته بعدما دخلت إليه هذه التقنية وأدمن عليها؟

Aku tidak ingin mendengar seseorang yang memberi pembelaan terhadap hal ini (whatssApp, Facebook, dan Twitter), karena dahulu sebelum masuknya teknologi ini, handphone tidaklah menjadi pusat perhatian kita...

Adapun sekarang, jika sesaat saja HP kita tertinggal, betapa kita merasa sangat kehilangan. Andai perasaan seperti itu ada juga pada shalat dan tilawatul Qur'an kita....

Adakah dari kita yang mengingkari hal ini?

Dan siapa juga yang tidak mendapatkan perubahan negatif di kehidupannya setelah masuknya teknologi ini pada kehidupannya dan setelah ia menjadi pecandu.

بالله علينا من سيكون أنيسنا في القبر
هل الواتس آب؟
أم التويتر ؟
أم القرآن؟!
إنه القرآن الذي ما باتت تتلى آياته وبات مهجورا.

Demi Allah, siapakah yang akan menjadi teman kita nanti di kubur?

Apakah Whatsapp...?!!

Atau Twitter...?!!

Ataukah Al-Qur'an...?!

Al-Qur'anlah yang akan menemani kita, padahal semalaman kita meninggalkannya, tidak kita baca ayat-ayatnya....

فلا ينفع الندم يوم لا ينفع الواتس اب والتويتر في موقف عظيم شديد الأهوال
لنعد إلى الله، ولا يشغلنا شي عن ديننا، فما ندري كم لنا من العمر بقية..!
( وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا )

Tidak bermanfaat penyesalan di hari tidak berguna WhatssApp dan Twitter, di kondisi yang dahsyat (pada hari akhirat), yang sangat mengerikan...

Mari kita bersama kembali pada Allah, jangan sampai ada hal yang menyibukkan kita dari dien kita...

Sungguh kita tak tahu berapakah sisa umur kita...

Allah berfirman:

(وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا)

"Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit." (QS Thoha : 124)

 
(Diterjemahkan oleh seorang hamba Allah semoga Allah membalas kebaikannya di dunia dan di akhirat)

Semoga HP menjadi wasilah untuk mengingat Allah bukan sebaliknya kesenangan yang melalaikan dan menjauhkan dari mengingat Allah.
Peringatan : Telah dinisbahkan nasehat diatas kepada Syaikh Su'ud As-Syuraim hafizohulloh ta'ala, hanya saja ada sebagian yang mengingkari karena tidak didapatkan di kumpulan khutbah Syaikh As-Syuraim. Karenanya tidak boleh kita menyandarkan nasehat di atas kepada beliau -sebagaimana yang terlanjur beredar di internet-,  wallahu A'lam siapa penulisnya, akan tetapi kita jadikan sebagai teguran dan nasehat bagi kita.

www.firanda.com

Selasa, 04 November 2014

Makan Sebelum Kondangan


Saya, Agus, Makhsun, dan Soegeng pernah tinggal serumah.

Hidup serumah setahun lamanya, cukup membuat kami tahu kebiasaan masing-masing. Saya tahu kebiasaan kawan saya Makhsun saat panas Bontang mulai menggila, demikian juga Soegeng tahu hal apa yang biasa saya lakukan untuk meredakan serangan rindu bertemu orang tua di Bandung.

Saya, Makhsun, dan Soegeng masih unyuk-unyuk saat itu. Jauh dari kedewasaan. Berbeda dengan Agus. Sebagai seorang santri dan cucu dari seorang kyai besar di Jawa Timur, Agus tampak lebih mandiri dibandingkan tiga penghuni rumah lainnya. Dia bangun sejam lebih pagi dari kami, mandi lebih awal, ke kantor lebih cepat, dan paling rajin menjalin silaturahmi dengan banyak orang di seputaran kompleks perusahaan. Tak heran, Agus yang ganteng adalah primadona kawan-kawan pekerja perempuan saat itu.

Tentang Agus, ada banyak hal baik yang indah untuk dikenang. Satu di antara kenangan indah yang ingin saya bagi, adalah "keanehan" yang dia lakukan sesaat sebelum memenuhi undangan.

Sebelum undangan, alih-alih mengosongkan perut agar bisa makan lahap saat kondangan, Agus selalu makan secukupnya sebelum hendak pergi memenuhi undangan. Tidak siang atau malam, pokoknya sebelum berangkat kondangan, dia pastikan makan dan minum terlebih dahulu.

+ Mas, kenapa sampeyang saat akan pergi kondangan pasti makan dan minum terbih dahulu?

- Oh, ini hasil didikan kakek saya. Sejak kecil, Simbah selalu mengingatkan anggota keluarganya untuk makan dan minum sebelum pergi memenuhi undangan. Mulanya saya tak paham maksud Simbah mengajarkan hal ini. Saat beranjak dewasa, saya tanya Simbah mengapa kita dianjurkan makan dan minum sebelum kondangan?

Jawab Simbahi, memenuhi undangan itu kewajiban, niatmu mesti lurus karena Allah. Jangan sampai niatmu rusak gara-gara kamu berharap jamuan dan hidangan yang mengundang. Ada atau tidak adanya jamuan pengundang tak membuatmu patah semangat memenuhi kewajibanmu. Semua itu mesti ikhlas karena Allah.

Jangan Jadi Ayah Gagal

dakwatuna.com – Pernikahan itu tidak cukup dengan cinta dan kerja, namun ada hal lain yang kadang orang lupa untuk mempersiapkannya. Yaitu persiapan ilmu menuju gerbang pernikahan. ilmu tentang parenting dan psikologi pernikahan. Karena menjadi seorang kepala rumah tangga berarti siap untuk mengemban amanah untuk menjadi pelindung seluruh anggotanya. "Qu Anfusakum wa ahlikum naaro" (QS. At-Tahrim : 6 ).

Jangan sampai terlanjur menjadi ayah tapi tidak tahu bagaimana mendidik anak. Jangan sampai terlanjur berkeluarga, tapi tidak tahu bagaimana menjadi pemimpin keluarga yang baik. Sebab, suami yang memperlakukan istrinya dengan buruk akan menjadi contoh buruk bagi anak laki-laki dalam memperlakukan teman-temannya dan istrinya kelak.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 133, Allah memberikan gambaran bagaimana kesuksesan Nabi Ya'qub 'alaihissalam dalam mendidik anak-anaknya.

Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqarah: 133)

Nabi Ya'qub ingin mengkroscek ke-tauhid-an anak-anaknya menjelang ia wafat. Ia ingin mengetahui apakah sepeninggalnya nanti anak-anaknya tersebut masih menyembah Allah atau tidak. Ini merupakan suatu klarifikasi yang penting bagi Nabi Yaqub apakah pasca kematiannya anak-anaknya dalam kehinaan atau kemuliaan.

Na'budu ilahaka wa ilaaha aabaa-ika. Nabi Ya'qub suskes mengajarkan pendidikan tauhid kepada anak-anaknya, dan ini mementahkan anggapan bahwa Nabu Ya'qub memeluk agama Yahudi. Terlihat bahwa jawaban mereka amat gamblang. Di sini ada rasa kebanggaan seorang anak terhadap Ayahnya. Ada unsur kekaguman, kedekatan seorang anak kepada Ayah dan kakek-kakenya karena mereka telah menjadi agen pembentuk Tauhidullah pada anak keturunannya.

Ilaahan waahidan. untuk menghilangkan kesan bahwa Tuhan yang mereka sembah itu dua atau banyak tuhan-karena sebelumnya mereka berkata Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu–maka ucapan mereka dilanjutkan dengan penjelasan bahwa Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh pada-Nya, bukan kepada selain-Nya siapa pun dia. Kemusyrikan remaja sekarang memang tidak lagi menyembah batu dan pohon. Tapi kemusyrikan anak zaman sekarang lebih berbahaya dari zaman dahulu. Horoskop, ramalan dan kemusyrikan akibat mengidolakan terlalu berlebihan pada publik figur. Sehingga mereka lebih mengidolakan artis dari pada Allah dan Rasul-Nya yang seharusnya lebih mereka cintai.

Wa Nahnu lahu muslimun. Tugas ayah salah satunya adalah memastikan bahwa anak-anak sudah mendapat asupan ilmu menjadi seorang muslim yang kaffah. Ayah bukanlah mesin ATM yang kehadirannya dibutuhkan anak-anak hanya ketika mereka butuh uang. Ayah sekarang sibuk bekerja. Sibuk berkarir. Berkomunikasi dengan anak-anak hanya soal materi.

Fenomena Lapar Ayah (Father Hunger)

Fenomena lapar ayah terjadi dalam dua kondisi:

Tidak adanya kehadiran fisik seorang ayah. Sebagian besar disebabkan karena faktor perceraian.

Ada kehadiran fisik. Namun ayah sibuk sendiri dengan aktivitasnya.Anak-anak seolah sudah hafal apa yang biasa ayah perintahkan. "ayo bangun, makan, tidur, belajar, dll…." Dan anak sudah hafal kata-kata ayah yang tidak kreatif itu.

Akar persoalan kerusakan generasi muda bermula dari ayah yang tidak menjalankkan peran dan fungsinya kepada anak-anaknya. Ayah terlalu sibuk menacri nafkah dan mengejar karir namun tidak memahamai apa sebetulnya kebutuhan anak-anaknya. Keberadaan geng motor, fenomena cabe-cabean, narkoba dan tawuran misalnya, adalah bentuk ketiadaan peran ayah dalam mentransformasikan nilai-nilai keberanian, kejujuran pada anak-anaknya. Yang ayah tahu hanya kerja…kerja…dan kerja. Dia merasa telah menjadi ayah yang baik dengan memenuhi kebutuhan materi anaknya, namun ia menjadi ayah yang bisu, tidak pernah berdialog dengan anak-anaknya. Sehingga banyak anak-anak yang lapar belaian ayah, lapar kasih sayang ayah, lapar komunikasi dengan ayah.

Selain itu, sifat kebanci-bancian pada anak laki-laki yang saat ini mulai memenuhi ruang-ruang hiburan di televisi menjadi fenomena yang tak lepas dari ketiadaan peran seorang ayah dalam mencontohkan kemaskulinan seorang  laki-laki . Anak tidak mendapat sifat kelaki-lakian karena ketiadaan didikan seorang ayah, karena anak itu kecewa pada ayahnya, karena anak itu benci pada ayahnya, karena anak itu jauh dari anaknya.

Fenomena lain akibat tak dipahaminya peran ayah dalam mengelola keluarga adalah broken home. Ini terjadi bukan karena tersebab perceraian. Namun ketika ayah tidak hadir di rumah, dan rumah tangga yang dibangun tidak bisa dijadikan sebagai sarana menanamkan nilai-nilai kebaikan antar anggotanya itulah yang sebetulnya disebut broken home.

Anak-anak adalah titipan Allah, jangan dititipkan lagi pada orang lain. Jangan sampai menjadi Ayah gagal yang kerja keras mencari nafkah, memperbesar fisiknya, namun jiwa dan raga anaknya dirampok pergaulan bebas yang menjerumuskan. Semoga kita semua bisa belajar untuk menjadi ayah yang baik, yang mampu menanamkan nilai tauhid kepada mereka. Menanamkan nilai tahuid membutuh waktu yang lama, doa yang panjang, kerja keras tak kenal lelah, dan kesabaran yang tak pernah luruh.

Disarikan dari berbagai kajian Ustadz Bahtiar Natsir

Di share dari dakwaktuna.com